Dari berbagai ulasan terkait revolusi industri 4.0 pada artikel sebelumnya telah menguraikan gambaran yang jelas terkait revolusi industri generasi ke-4 ini, mulai dari pembahasan perkembangannya sampai dengan ulasan ancaman dan peluangnya.

 

Revolusi industri 4.0 merupakan hal yang harus dihadapi oleh Indonesia begitupun dengan Negara lainnya. Tantangan dari revolusi industri ini harus dijadikan peluang untuk Indonesia maju, dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 negara harus memastikan sumber daya manusia yang ada mampu bersaing dalam menciptakan peluang baik di dunia wirausaha, perbangkan, jasa, dan industri lainnya.

 

Indonesia berpotensi mendapatkan tambahan PDB sebesar US$121 miliar pada 2025 melalui penerapan industri 4.0. Kendala penerapan industri 4.0 yang kompleks perlu diselesaikan dengan kerja sama pemerintah, pelaku industri, serta pemangku kepentingan lainnya.

 

Managing Partner Indonesia McKinsey & Company, Philia Wibowo, menjelaskan berdasarkan hasil riset McKinsey, sektor manufaktur akan mendapat pengaruh terbesar dari penerapan industri 4.0. Sektor tersebut akan mendapat tambahan US$34 miliar.

 

Adapun sektor lain yang mendapat pengaruh penerapan industri 4.0 adalah sektor ritel sebesar US$25 miliar, transportasi US$16 miliar, pertambangan US$15 miliar, agrikultur US$11 miliar, teknologi komunikasi dan informasi US$8 miliar, fasilitas kesehatan US$7 miliar, sektor publik US$5 miliar, serta sektor finansial sebesar US$2 miliar.

 

Philia menilai penambahan tersebut merupakan kesempatan yang terlalu besar untuk dilewatkan, sehingga pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya perlu mendorong implementasi tersebut.

 

Berdasarkan riset McKinsey, 79% industri di kawasan Asia Tenggara telah memiliki kesadaran akan industri 4.0. 63% industri pun terus meningkat optimismenya dalam menerapkan industri 4.0.

 

Industri di Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan optimisme industri dalam menerapkan 4.0, yakni sebesar 78%. Di atas Indonesia terdapat Vietnam (79%), sedangkan di bawah Indonesia terdapat Thailand (72%) dan Singapura (53%).

 

Philia menilai hal tersebut merupakan peluang besar bagi Indonesia asalkan dapat dioptimalkan melalui iklim industri yang menunjang dan sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *