Lupa diri, bangsaku terancam punah

Siapa yang membangun Thebes, sebuah kota di Mesir kuno yang terletak 800 km sebelah selatan lautan tengah di tepi timur sungai nil dari tujuh gerbang? Berbagai literatur dalam sejarah ummat manusia, apakah engkau menemukan nama-nama raja yang mengangkut bongkahan batu? Alexander muda menaklukkan India, apakah dia sendiri? Caesar mengalahkan Galia (kawasan Eropa Barat) dalam pertempuran Alesia, apakah Caesar tidak berjuang bersama setelah perang itu usai? Di Spanyol, Philip menangis ketika armadanya pergi bertempur, apakah dia dia satu-satunya yang menangis? Setiap kemenangan dalam pertempuran, siapa yang memasak untuk merayakannya? Begitu banyak informasi, begitu banyak pertanyaan dan begitu luasnya pengetahuan. Bertolt Brecht, Pertanyaan Dari Pekerja.

Diam, meratapi dan  merenungi kehidupan adalah cara untuk menyelami makna puisi  “pertanyaan” dari Brecht. Jawaban dari segala pertanyaan sejarah masa  lalu merupakan warisan berharga bagi kehidupan kini. Sejarah bukan  ‘bunk’ seperti yang dikatakan Henry Ford, salah satu kelompok  Multinational Corporations (MNC) pada bidang otomotif, musuh pahit  serikat buruh dan pengagum awal Adolf Hitler.

Sejarah adalah tentang  urutan kejadian yang mengarah pada kehidupan kita dalam menjalani hidup  sekaligus menjadi kisah tentang bagaimana menjadi atau mengenal diri  sendiri.

“Dia yang mengontrol masa lalu akan mengontrol masa  depan” sebuah slogan dari totalitarians yang mengontrol negara dalam  novel George Orwell 1984. Slogan ini yang selalu dianggap serius oleh  mereka yang tinggal di istana dengan kehidupan yang sangat sempurna  bagaikan berada dalam surga.

Sekitar 22 abad yang lalu, seorang  kaisar Tiongkok menjatuhi hukuman mati bagi siapapun yang menggunakan  masa lalu untuk mengkritik masa kini. Kaum Aztec berusaha menghancurkan  catatan dari negara-negara sebelumnya ketika mereka menaklukkan Lembah  Meksiko pada abad ke-15, dan Spanyol berusaha menghancurkan semua  catatan Aztec ketika mereka pada gilirannya menaklukkan wilayah Aztec di  tahun 1620-an.

Kejadian masa lalu akan terus terulang. Di Uni Soviet,  Menantang sejarawan resmi Stalin atau Hitler di Jerman serta Soeharto di  Indonesia berarti penjara, pengasingan atau kematian. Sejak zaman  Firaun pertama hingga kini, Penguasa memiliki hak dalam menyajikan  sebuah prestasi yang tertulis dalam lembar sejarah sebagai bentuk  pencapaiannya. Namun, setiap pencapaian yang menjadi kebanggan penguasa  didapatkan dengan cara mengorbankan darah bahkan nyawa yang tidak  disertakan atau ditulis dalam pencapaiannya.

Ada banyak cara agar  sang penguasa dapat menghipnotis manusia sehingga pencapian yang  dilakukan mendapatkan apresiasi bahkan menjadi idola bagi mereka yang  telah terhipnotis. Selain buku, di abad 21 saat ini, teknologi menjadi  alat paling efektif dalam menghipnotis. Tampil di media dengan berbagai  pencapian yang dicapai, penguasa sadar ataupun tidak pencapaian itu berasal dari luka,  derita dan bahkan nyawa sebagaimana pembuatan piramida di Mesir yang  menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Dalam sebuah  negara, terkhusus negara dunia ketiga yang menganut sistem demokrasi  liberal meniscayakan lahir klan-klan atau kelompok baru. Clan tersebut  saling bertaruh untuk menjadi penguasa di wilayah yang mereka tempati.  Jika clan yang satu menjadi penguasa, maka clan yang lain akan menjadi  anti penguasa manakala clan tersebut tidak ingin kompromi sebagaimana  kisruh yang terjadi di bumi pertiwi saat ini.

Max Lane, Bangsa Yang Belum Usai. Dalam buku tersebut yang merangkum kondisi-kondisi  sosio-ekonomi sejak didesakkannya resep-resep ekonomi neo-liberal, yang  memperkuat proses politik menggulingkan Soeharto sepanjang tahun 1990  hingga periode pasca Soeharto. Max lane berupaya untuk memberikan  penjelasan tentang kesadaran yang terpecah dalam protes-protes sosial  yang terus ada setelah kejatuhan Soeharto.

Analisanya menyimpulkan  bahwa, walaupun gerakan massa menentang kediktatoran telah berhasil  merebut kembali budaya politik Indonesia yang dibutuhkan bagi revolusi  nasional (mobilisasi aksi), namun proses untuk merebut kembali ideologi  dan budaya yang dibutuhkan juga bagi revolusi nasional, baru saja mulai  berjalan.

Ideologi demokrasi terpimpin gagasan Soekarno sudah  dilupakan, Demokrasi pancasila buatan orde baru tercoreng karena menjadi  dasar sistem otoriter yang ditumbangkan massa selama reformasi. Lalu  ideologi apa yang bisa mengisi kehampaan ini atau memang masyarakat  Indonesia pasca orde baru tidak membutuhkan ideologi lagi?

Perubahan  politik yang terjadi di Indonesia adalah karena aksi massa. Tahun 1965,  gerakan mahasiswa pada saat itu dilakukan secara politis, dan paska  1966 aksi-aksi yang terjadi justru anti politik. Saat itu juga menguat  peranan institusi, yakni militer. Dan pada tahap berikutnya, tahun  1970an dimunculkan isu korupsi sebagai gerakan moral dengan tokoh  seperti Arief Budiman yang akhirnya meluas menjadi aksi anti modal  Jepang dan anti militerisme.

Indonesia yang sekarang secara  faktual telah menjadi nation belumlah siap menjadi bangsa yang utuh kata  Max Line. Masih banyak pekerjaan-pekerjaan rumah yang sebenarnya belum  selesai, bahkan pekerjaan tersebut telah menumpuk dan semakin menumpuk.  Inilah yang mendorong lahirnya berbagai kemungkinan gerakan sosial yang  masif dan kadang sulit diduga bahkan di kontrol. Tidak terhitung lagi,  sudah beberapa kali gelombang gerakan massa sejak pertama kali  berdirinya bangsa Indonesia sampai akhir tumbangnya Soeharto oleh  gerakan reformasi 1998. Namun apakah gerakan yang cenderung revolusioner  tersebut telah membuahkan hasil atau bahkan akan kembali set-back  seperti sebelumnya.

Tidaklah mudah memang dalam menganalisa  secara detail tentang Indonesia karena demikian luas dan beragamnya  potensi yang berada dalam negara Indonesia. Tapi setidaknya dalam  perspektif sejarah dan pengalaman masa lalu, bangsa Indonesia dibangun  dalam pondasi yang sangat lemah sehingga hampir mimpi-mimpi tentang  Indoesia belum ditemukan secara utuh, mau apa dan dikemanakan bangsa  Indonesia ini.

Pertarungan pemikrian tersebut terlihat dari berbagai  polemik para tokoh-tokoh sejarah yang sering jatuh bangun, keluar masuk bui oleh bangsa sendiri.

Berbagai perspektif tentang Indonesia banyak dilatarbelakangi oleh  kondisi dan situasi dunia pada masa sejarah dan modern sekarang ini.  Karena Indonesia adalah bagian dari gerakan bangsa-bangsa di dunia yang  satu sama lain juga memiliki berbagai kepentingan yang berbeda.

Oleh  karena itu sering dalam sejarahnya Indoesia telah menjadi bagian dari  konflik dan kepentingan ideologi dunia lain seperti halnya kepentingan  barat dan timur dalam perang dingin lalu. Tidak sedikit yang kemudian  juga bagian dari antek-antek penjajah masa lalu atau bagian dari  gerakan ideologi kapitalis atau sosialis bahkan fundamentalis dunia.

Maka dari itu sudah sepantasnya Indonesia berkaca pada sejarah dan  masa lalu sehingga dapat memperkirakan apa yang akan terjadi di masa  yang akan datang. Intinya, Indonesia sebagai bangsa yang kalah harus  belajar dari kekalahan dan keluar dari kepentingan-kepentingan negara lain saat ini. Sudah saatnya bangsa Indonesia kembali  menggali identitas diri dan memberdayakan identitas asli milik bangsa  sendiri, yang akhirnya Indonesia memiliki frame tersendiri dalam  membangun dan menata dunianya.

Dengan potensi yang luar biasa dan tidak  dimiliki oleh bangsa lain maka Indonesia akan menjadi bangsa yang besar  bahkan akan menjadi salah satu bangsa “adi daya” yang juga tidak tertandingi sebagaimana negara maju lainnya.

Narator : A. Suhaerullah, *Mahasiswa jurusan akuntansi STIE Nobel Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *